Panggung sejarah dunia masih mempertontonkan arogansi kebiadaban perang dan kematian. Para pemegang kekuasaan penebar maut masih haus darah dan kekuasaan. Satu diantaranya tengah dilakukan secara sistematis oleh pemimpin negara adidaya Amerika Serikat bernama George W. Bush. Setelah berkiprah dengan reputasi buruk di Vietnam, Nicaragua, Somalia, Etiopia, Afghanistan, dan kini Irak, Amerika Serikat belum jera melakukan ekspansi militer dan menebar ancaman perang nuklir terhadap negara-negara kecil yang tidak berdaya. Mereka tidak elegan mengambil pelajaran dari kegagalan mereka di negara-negara yang pernah mereka perdayai dan menuai kegagalan. Demokrasi Amerika yang dikatakan sebagai yang paling unggul di dunia ternyata tidak lebih dari sebuah topeng 'bermuka dua'. Satu sisi mereka meneriakkan dengan lantang demoktarisasi dunia yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, namun di sisi lainnya mereka menutup mata terhadap pelanggaran demokrasi dan hak asasi manusia yang dilakukan dengan sistematis oleh negara-negara sekutunya. Contoh paling aktual adalah pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Israel terhadap orang-orang Palestina. Kasus di Irak adalah panggung teater dunia yang melakonkan 'tragedi kehancuran sebuah peradaban oleh kebiadaban' yang dipertontonkan dengan sangat tidak tahu malu oleh rezim Bush.
Silakan teruskan aksi kalian, wahai Bush dan antek-anteknya, jika kalian kelak ingin dikenang sebagai salah satu dari sekian kawanan manusia yang menebar kematian dan kehancuran atas manusia lainnya di muka bumi. Namun jika kau masih memiliki hati nurani, segera tinggalkanlah Irak dan biarkan mereka merajut kembali benang-benang kehidupan yang carut-marut karena ambisimu. Bangsa Irak sudah cukup menderita, jangan kalian bebani dengan ekspansimu yang tidak berguna. Semoga Tuhan memberikan akal sehat kepada para pemimpin yang terobsesi dengan kegilaan kekuasaan semu.
Thursday, September 27, 2007
Thursday, November 16, 2006
Foto di Andongsili

Here's me and my wife, Nanik, in Andongsili. The picture was taken by Reza, our first child, on October 31, 2006.
Andongsili is a tea plantation at the north foot of Mount Kemulan, Blado subdistrict, Batang regency,Central Java Province, Indonesia.
Have you ever been there? It's a beautiful landscape. Would you like to go there? Oh, it's rather hard way to reach there. The trip starts from Batang. Take an only hotmixed road to Bandar from Batang (about 18 KM). There are two choices from Bandar to reach Andongsili. The first is the hardest way because you have to go through the worst road connecting Bandar and Batur (Banjarnegara), stop at Nglier (Karang Tengah villager, after Kambangan and Kembang Langit), turn left passing the path among tea plantation about two kilometers. The way is very hard because you have to go through the slippery, stony paths beside the stony stream. By crossing the bamboo bridge acrossing the stream, you would have been under the Andongsili village.
Hai, Bush apa kabar?
Secara pribadi saya tidak mengenal Bush (George W. Bush) yang kesohor hingga kolong langit itu, tapi siapa penduduk bumi yang tidak mengenal presiden Amerika Serikat itu? Bush bukan saja dikenal sebagai politisi hebat di negerinya, namun juga karena peranannya membuat kerusakan yang hebat pula di Afghanistan, Irak, dan Palestina.
Beberapa hari lalu, rakyat Amerika Serikat melaksanakan pemilihan umum untuk memilih wakil mereka di Konggres dan Senat. Partai-partai yang berpartisipasi entah berapa jumlahnya, tapi yang terkenal adalah Partai Republik (partainya Bush) dan Partai Demokrat. Sebelum pelaksanaan pemilu Bush sangat yakin bahwa partainya akan menang besar karena Bush merasa bahwa rakyat Amerika selalu mendukung kebijakannya di Asia dan Timur Tengah. Bush tidak tahu bahwa sebagian rakyatnya mulai menyadari bahwa peranan negara adidaya itu di luar negeri hanya mengakibatkan kerugian dan kehancuran saja. Tindakan Bush di luar negeri sangat tidak poluler, sehingga membuat kredibilitas Amerika Serikat sedikit merosot. Dan bukti ketidak-sukaan rakyat Amerika Serikat terhadap presidennya adalah hasil pemilu yang dimenangkan oleh Partai Demokrat (meskipun tidak telak). Kenyataan ini membuat Bush akan mengalami kesulitan di Kongres dan Senat. Dulu, semasa wakil partainya menguasai Kongres dan Senat, semua kebijakan Bush hampir selalu disetujui. Kini, dengan dukungan yang kalah jumlah, dipastikan Bush akan mengalami hambatan saat menggolkan kebijakan-kebijakannya. Itulah politik, menang dan kalah menjadi hal biasa. Makanya, jangan sombong ketika menang dan jangan menyalahkan sana-sini bila kalah. Kekalahan Partai Republik juga membawa korban, Menhan Rumsfeld (salah satu arsitek kebijakan Bush) 'terpental' dari kabinet Republik. Siapa lagi menyusul, Tuan Bush?
Beberapa hari lalu, rakyat Amerika Serikat melaksanakan pemilihan umum untuk memilih wakil mereka di Konggres dan Senat. Partai-partai yang berpartisipasi entah berapa jumlahnya, tapi yang terkenal adalah Partai Republik (partainya Bush) dan Partai Demokrat. Sebelum pelaksanaan pemilu Bush sangat yakin bahwa partainya akan menang besar karena Bush merasa bahwa rakyat Amerika selalu mendukung kebijakannya di Asia dan Timur Tengah. Bush tidak tahu bahwa sebagian rakyatnya mulai menyadari bahwa peranan negara adidaya itu di luar negeri hanya mengakibatkan kerugian dan kehancuran saja. Tindakan Bush di luar negeri sangat tidak poluler, sehingga membuat kredibilitas Amerika Serikat sedikit merosot. Dan bukti ketidak-sukaan rakyat Amerika Serikat terhadap presidennya adalah hasil pemilu yang dimenangkan oleh Partai Demokrat (meskipun tidak telak). Kenyataan ini membuat Bush akan mengalami kesulitan di Kongres dan Senat. Dulu, semasa wakil partainya menguasai Kongres dan Senat, semua kebijakan Bush hampir selalu disetujui. Kini, dengan dukungan yang kalah jumlah, dipastikan Bush akan mengalami hambatan saat menggolkan kebijakan-kebijakannya. Itulah politik, menang dan kalah menjadi hal biasa. Makanya, jangan sombong ketika menang dan jangan menyalahkan sana-sini bila kalah. Kekalahan Partai Republik juga membawa korban, Menhan Rumsfeld (salah satu arsitek kebijakan Bush) 'terpental' dari kabinet Republik. Siapa lagi menyusul, Tuan Bush?
Subscribe to:
Posts (Atom)
